Skip to content

Jenis Bukti Audit

Jenis Bukti Audit

Menurut Konrath (2002), bukti audit terdiri atas bermacam fakta dan inferensi yang mempengaruhi pemikiran seorang auditor atas sebuah penyajian laporan keuangan. Sehingga, berdasarkan karakteristiknya, terdapat 2 (dua) bentuk bukti audit yakni faktual dan inferensal. Bukti faktual merupakan bukti yang daripadanya dapat ditarik kesimpulan secara langsung. Secara umum bukti faktual dianggap lebih kuat dibandingkan bukti inferensial. Berbeda halnya dengan bukti inferensial, yang tidak secara langsung menghasilkan suatu kesimpulan bagi auditor. Meski begitu, bukti inferensial memiliki peranan yang cukup penting dan tidak dapat diabaikan sebab mampu memberikan sinyalemen yang mengarah kepada suatu hal yang seharusnya menjadi perhatian auditor.

Konrath (2002) juga membagi bukti audit ke dalam 6 (enam) jenis, yakni:

  1. Bukti Fisik (Physical Evidence)
  2. Bukti Konfirmasi (Evidence Obtained through Confirmation)
  3. Bukti Dokumen (Documentary Evidence)
  4. Bukti Matematik (Mathematical Evidence)
  5. Bukti Analitik (Analytical Evidence)
  6. Bukti Keterangan (Hearsay or Oral Evidence)

Bukti Fisik

Menurut Konrath (2002), bukti fisik terdiri atas setiap hal yang dapat dihitung (counted), diamati, maupun diinspeksi. Bukti fisik, melalui sifatnya yang faktual, memberikan dukungan utama bagi tujuan audit keberadaan (existence). Bukti fisik mencakup bukti-bukti audit yang dikategorikan oleh Arens (2012) sebagai pemeriksaan fisik (physical examination), observasi (observation), dan reperformance.

1. Pemeriksaan Fisik

Menurut Arens (2012) pemeriksaan fisik merupakan inspeksi atau perhitungan atas tangible assets oleh auditor. Terdapat perbedaan antara pemeriksaan fisik dengan pemeriksaan dokumen. Jika objek yang diperiksa tidak memiliki nilai bawaan (inherent value), maka bukti auditnya disebut sebagai bukti audit dokumen, sepeti pemeriksan atas dokumen penjualan, maupun dokumen cek yang belum diterbitkan.

Secara umum, pemeriksaan fisik bertujuan untuk memastikan kuantitas dan wujud dari aset. Dalam beberapa kasus, pemeriksaan fisik juga menjadi metode untuk melakukan evaluasi atas kondisi dan kualitas aset. Pemeriksaan fisik, secara langsung mengandung maksud untuk melakukan verifikasi bahwa aset benar-benar ada (existence objective) dan juga bahwa seluruh aset yang ada memang telah dicatat (completeness objective).

2. Observasi

Menurut Arens (2012), observasi adalah penggunaan indera untuk menilai aktivitas klien. Sepanjang pelaksanaan audit, Meski termasuk ke dalam bukti audit, penting bagi auditor untuk menindaklanjuti kesan awal yang diperoleh melalui observasi dengan bukti-bukti penguat.

3. Repreformance

Merupakan pengujian independen oleh auditor, atas prosedur akuntansi maupun aktivitas pengendalian oleh klien, yang merupakan bagian dari sistem akuntansi dan pengendalian milik klien (Arens, 2012). Reperformance jamak digunakan sebagai salah satu metode dalam pelaksanaan tahapan audit uji pengendalian (Test of Control). Contoh dari reperformance adalah auditor melakukan perbandingan harga pada invoice dengan daftar harga, serta auditor melakukan kembali analisis dan klasifikasi aging atas tagihan yang dimiliki klien. Atau ketika auditor menggunakan dummy data untuk diolah dalam sistem informasi klien (data testing) untuk keperluan uji kecukupan pengendalian sistem informasi klien.

Bukti Konfirmasi

Arens (2012) menyebutkan bahwa konfirmasi merupakan perolehan tanggapan langsung tertulis dari pihak ketiga yang memberikan verifikasi atas akurasi informasi yang diminta oleh auditor. Permintaan tersebut ditujukan oleh auditor kepada klien, dan klien yang akan meminta pihak ketiga untuk memberikan respon secara langsung kepada auditor.

Informasi yang Sering Dikonfirmasikan

Informasi Sumber

Aset

Cash in bank Bank
Marketable securities Investment custodian
Account Receivable Customer
Notes receivable Maker
Owned inventory out on consignment Consignee
Inventory held in public warehouses Public warehouse
Cash surrender value of life insurance Insurance company

Kewajiban

Accounts payable Creditor
Notes payable Lender
Advances from customer Customer
Motgages payable Mortgagor
Bonds payable Bondholder
Ekuitas Pemilik
Shares outstanding Registrar and transfer agent

Informasi Lainnya

Insurance coverage Insurance company
Contingent liabilities Bank, lender, and client’s legal counsel
Bond indenture agreements Bondholder
Collateral held by creditors Creditor

Arens, Elder, and Beasley, 2012, Auditing and Assurance Services: An Integrated Approach 14th ed

Bukti Dokumen

Bukti audit lain menurut Arens (2012) adalah bukti dokumen. Auditor melakukan pemeriksaan atas dokumen dan catatan klien. Dokumen yang diperiksa adalah catatan yang digunakan oleh klien untuk menyediakan informasi yang bertujuan untuk melaksanakan bisnis secara terorganisasi. Bukti dokumen dapat berwujud kertas, elektronik, maupun bentuk lainnya.

Bukti dokumen dapat diklasifikasikan sebagai dokumen internal maupun dokumen eksternal. Dokumen internal disiapkan dan digunakan di dalam organisasi tanpa diserahkan kepada pihak luar organisasi. Sedangkan dokumen eksternal diserahkan oleh pihak di luar organisasi klien yang terlibat dalam transaksi yang terdokumentasikan, dan disimpan oleh klien ataupun dapat diperoleh sewaktu-waktu.

Determinan utama bagi kesediaan auditor untuk menerima sebuah dokumen sebagai bukti yang memadai adalah apakah dokumen tersebut berasal dari pihak luar (eksternal) atau dari dalam organisasi (internal). Dan ketika dokumen tersebut merupakan dokumen internal, perlu diidentifikasi apakah dokumen tersebut dihasilkan dari proses dengan pengendalian internal yang memadai, ataukah tidak. Namun ketika dokumen tersebut berasal dari eksternal, maka diindikasikan bahwa setiap pihak yang terlibat dalam transaksi, baik klien maupun pihak di lain yang terlibat, telah menyetujui informasi dan kondisi yang tertera dalam dokumen. Sehingga dokumen eksternal dianggap lebih dapat diandalkan.

Bukti Matematik

Konrath (2002) menyebut bahwa bukti matematik terdiri atas kalkulasi, rekalkulasi dan rekonsiliasi yang dilakukan oleh auditor. Bukti matematik tergolong bukti faktual sebab auditor melaksanakan komputasi atas data. Bukt matematik berkaitan utamanya dengan pengujian atas alokasi dan prinsip akrual. Contoh dari alokasi dan prinsip akrual yang diuji melalui rekalkulasi untuk memperoleh bukti matematik adalah perhitungan depresiasi, pajak, gaji, serta laba ataupun rugi dalam pelepasan aset.

Lebih lanjut Konrath (2002) mengutip bahwa GAAS mengharuskan auditor untuk secara teliti melakukan evaluasi apakah estimasi yang dibuat oleh manajemen sudah memadai. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan oleh auditor adalah mengembangkan ekspektasi independen atas estimasi untuk mengkonfirmasi estimasi manajemen. Hal inilah yang dapat juga menghasilkan bukti matematik. Seperti misalnya, auditor dapat melakukan perhitungan ulang atas beban warranty, NRV atas persediaan, atau pembentukan cadangan.

Begitu pula dengan rekonsiliasi, sebab melibatkan sejumlah komputas, maka dapat pula dikategorikan sebagai bukti matematik. Contohnya adalah rekonsiliasi bank, serta rekonsiliasi pencatatan pada perusahaan dengan anak (subsidiaries).

Bukti Analitik

Mengutip AICPA Professional Standards, Konrath (2012) menyatakan bahwa prosedur bukti analitik merupakan pengujian substantif atas informasi keuangan dengan melakukan studi dan perbandingan atas hubungan di antara data. Prosedur analitik digunakan pada tahap perencanaan serta penyelesaian audit. Pada tahap perencanaan, prosedur analitik digunakan untuk mengidentifikasi area dengan risiko audit yang tinggi. Sedangkan pada tahap penyelesaian, kembali auditor menggunakan prosedur analitik untuk melakukan evaluasi atas kewajaran saldo dan transaksi setelah audit.

Arens (2012) mengidentifikasi setidaknya ada 4 (empat) tujuan dari prosedur analitik:

  1. Memahami industri dan bisnis klien. Auditor diharuskan memperoleh pengetahuan berkaitan dengan industri dan bisnis klien sebagai bagian dari perencanaan audit. Pada prosedur analitik yang membandingkan antara data keuangan perusahaan dengan tahun sebelumnya, perubahan-perubahan yang terjadi diperhatikan.
  2. Menilai keberlangsungan (going concern) perusahaan. Prosedur analitik seringkali digunakan sebagai indikator untuk menentukan apakah entitas sedang mengalami masalah keuangan. Beberapa prosedur anaalitik dapat membantu auditor menilai kemungkinan pailit. Contohnya adalah rasio hutang jangka panjang atas nilai bersih perusahaan yang di atas normal, bersamaan dengan rasio laba atas total aset yang lebih rendah dari rata-rata, mengindikasikan besarnya risiko pailit.
  3. Mengindikasikan adanya kemungkinan salah saji laporan keuangan. Salah saji laporan keuangan dapat menjadi salah satu sebab bagi fluktuasi yang tidak wajar. Adanya fluktuasi tidak wajar yang ditemui ketika melakukan komparasi data keuangan tahun ini dengan tahun sebelumnya. Ketika fluktuasi yang tidak wajar nilainya sangat besar, maka auditor harus menemukan sebab alasan terjadinya fluktuasi tersebut, dan memastikan bahwa hal tersebut disebabkan adanya suatu kejadian ekonomi yang valid, alih-alih dikarenakan salah saji akuntansi.
  4. Mengurangi pengujian audit yang detail. Manakala prosedur analitik tidak menunjukkan adanya fluktuasi yang tidak wajar, hal ini berdampak pada kecilnya kemungkinan salah saji material. Dalam hal ini, prosedur analitik menjadi bukti substantif yang mendukung kewajaran penyajian saldo neraca yang bersangkutan.

Bukti Keterangan

Arens (2012) menyebut bukti keterangan (hearsay evidence) dengan istilah inquiries of the client. Merupakan perolehan informasi baik secara tertulis maupun lisan sebagai tanggapan atas pertanyaan dari auditor. Meskipun bukti keterangan yang diperoleh tersebut dapat dipertimbangkan, namun biasanya bukti tersebut dianggap kurang konklusif sebab berasal dari sumber yang tidak independen dan mungkin saja bias sebab keberpihakan kepada kepentingan klien.

Kecakapan dari Setiap Jenis Bukti Audit

Sebagaimana telaah disebutkan, bahwa Arens (2012) mensyaratkan bahwa bukti yang cakap harus bersifat relevan dan handal (reliable). Sebagaimana disebutkan pula, kehandalan sebuah bukti audit diukur melalui 6 karakteristik. Oleh karena relevansi setiap bukti audit bervariasi, pada tabel berikut ini akan diidentifikasi kehandalan setiap jenis bukti audit berdasarkan 6 kriteria kehandalan bukti audit.

Jenis Bukti Audit Kriteria Kehandalan Bukti Audit
Independence of Provider Effectiveness of Client’s Internal Control Auditor’s Direct Knowledge Qualifications of Provider Objectivity of Evidence Timeliness
Physical High (Auditor does) Varies Varies High (Auditor does) High Varies
Confirmatory High N/A Low Varies – Usually High High Varies
Documentary External more independent than internal Varies Low Varies High Varies
Mathematical High (Auditor does) Varies High High (Auditor does) High Varies
Analytical High/Low (auditor does/client responds) Varies Low Normally high (auditor does/client responds) Varies (usually low) Varies
Hearsay Low (Client provides) N/A Low Varies Varies – low to high Varies

 

Dari tabel di atas dapat dilakukan analisis bahwa efektivitas pengendalian mempunyai pengaruh yang signifikan atas kehandalan sebagian besar jenis bukti audit. Selain itu, dapat kita amati bahwa meskipun bukti audit tersebut digunakan pada tujuan audit yang berbeda, bukti audit fisik dan bukti audit matematik dipegaruhi kehandalannya oleh pengendalian internal entitas. Hal ini menunjukkan bahwa dua jenis bukt audit yang berlainan sama sekali dapat memiliki kehandalan yang setara. Meski begitu, jenis bukti audit tertentu jarang sekali mencukupi sebagai dasar atas seluruh tujuan audit sekaligus.

Konrath (2002) menyajikan urutan tingkat keandalan jenis bukti audit dalam bentuk diagram.

keandalan-bukti-audit

Biaya dari Setiap Jenis Bukti Audit

Tabel berikut ini menunjukkan pendapat Arens (2012) berkaitan dengan biaya atas setiap jenis bukti audit

Jenis Bukti Audit Biaya Penjelasan
Physical –  examination Expensive Mensyaratkan kehadiran auditor untuk perolehan bukti. Adakalanya fisik aset tersebar di berbagai lokasi.
Physical – observation Least-expensive Observasi dapat dilakukan secara bersamaan (concurrent) dengn prosedur audit yang lain.
Physical – reperformance Moderate Reperformance  dapat memakan biaya yang bervariasi bergantung pada ruang lingkup pelaksanaan reperformance.
Confirmatory Expensive Auditor harus mengikut prosedur yang teliti dalam hal persiapan, pengiriman serta penerimaan hasil permintaan, berikut tindak lanjut apabila terdapat eksepsi maupun ketika tidak ada respon yang diberikan.
Documentary Moderate Jika klien telah menyiapkan dokumen bagi auditor maka pada umumnya biaya yang diperlukan rendah. Namun jika tidak maka biaya yang ditimbulkan bisa tinggi.
Mathematical Least-expensive Melibatkan komputasi sederhana serta dapat dilakukan dengan bantuan software.
Analytical Moderate Waktu pengujian detail yang digunakan untuk memperoleh bukti analitis relatif lebih redah jika dibandingkan dengan pemeriksaan fisik dan konfirmasi
Hearsay Least-expensive Normalnya memerlukan biaya yang rendah, terkecuali bila ada pernyataan tertulis yang diperukan.

 

 

Lucky mustard.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*